Kamis, 14 April 2016

Ketika Cinta Tak Direstui Orang Tua yang Masih Percaya Mitos Pernikahan Adat Jawa

Sebelumnya aku udah curhat di tulisan yang aku kasih judul Lusan Besan dan Hubunganku yang Kandas di Tengah Jalan. Bukan karena aku tidak ikhlas, bukan pula aku tidak percaya dengan takdir. Kalau ikhlas, ku akui aku belum bisa ikhlas menerima kenyataan bahwa kamu meninggalkanku. Ikhlas itu sulit, ikhlas itu bagaikan puncak tertinggi yang paling sulit untuk diraih seorang manusia, apalagi manusia biasa seperti aku ini. Masalah takdir, justru aku benar-benar percaya bahwa Allah maha kuasa dalam menentukan takdir hamba-Nya. Dia punya otoritas penuh untuk merubah dan memodifikasi takdir setiap makhluknya.

Keputusanmu untuk mengakhiri saja hubungan kita, bagiku hanyalah emosi sesaat saja. Bila kamu menyerah, aku belum ingin menyerah. Allah itu Maha Kuasa, hanya karena kamu takut orang tuamu nanti tidak merestui hubungan kita yang menurut adat jawa yang diyakini orang tuamu, hubungan kita ini hubungan terlarang yang dinamakan lusan besan. Apa kamu bisa memastikan kalau nanti mereka tidak akan merestui kita? Tidak kan? Lalu mengapa dengan mudahnya kau jadikan itu sebagai alasan untuk mengakhiri hubungan kita?

Ketika Cinta Tak Direstui Orang Tua yang Masih Percaya Mitos Pernikahan Adat Jawa

Setau dan sejauh yang aku yakini, tidak semua pelanggaran terhadap mitologi jawa itu mendapat sanksi gaib atau semacam kutukan. Memang ada pendapat yang mengasumsikan kalau mitos-mitos jawa itu berasal dari sabda atau ketetapan dari wali tanah jawa, seperti Syekh Subakir yang telah menumbali tanah jawa. Karena berasal dari seorang wali Allah, dan salah satu sifat wali Allah adalah setiap perkataannya mengandung kekuatan, di mana apa yang ia ucapkan tak lain adalah getaran Nur Ilahi. Maka jika memang benar mitos-mitos jawa seperti lusan besan itu adalah bagian dari kesepakatan yang dibuat oleh Syekh Subakir, memang hal itu menjadi hukum kausalitas, sebab ia memiliki koneksi yang dekat dengan Allah. Do’a nya mustajab, sehingga orang jawa yang melanggar kesepakatan yang dibuat oleh beliau, sama halnya dengan melanggar Hukum Alam yang telah ditetapkan Allah melalui lisan hambanya, akibat dari melanggarnya bisa jadi kena bala'/ kutukan/peringatan.


Satu hal penting, pada umumnya kutukan itu seringkali dijumpai pada masyarakat jawa yang masih memegang kuat animisme. Dalam tradisi raja-raja di Nusantara dan dunia, biasanya mereka memiliki sebuah aturan atau kesepakatan, yang jika masyarakat atau rakyatnya melanggar, maka akan kena Kutukan. Dan hal itu bisa terjadi dalam lintas zaman dan lintas generasi.

Sayangnya saya dan kebanyakan orang jawa tidak tau dari mana asal-usul aturan seperti larangan Lusan Besan itu. Ada pula yang mengatakan kalau sebenarnya PERNIKAHAN LUSAN dalam adat jawa itu hanya didasari oleh kejadian buruk yang dialami oleh orang yang melanggar yang kejadian itu pernah terjadi beberapa kali, di mana kemudian menyebabkan orang jawa takut kalau hal itu terulang. Sebenarnya lusan besan itu bukan larangan, namun sekedar sebuah bentuk kehati-hatian, hanya saja orang jawa kuno terlalu melebih-lebihkan. Terutama mereka yang masih kental ilmu kejawennya dan kurang teguh dalam memegang prinsip-prinsip agama Islam, terutama persoalan keimanan dan Tauhid.

Bukannya aku keras kepala, bukan pula aku mengajarimu untuk menjadi anak durhaka. Aku hanya berpikir, ini hanyalah sebuah batu sandungan kecil bagi hubungan kita yang tidak sepantasnya kita berhenti berjalan karenanya. Aku yakin kita masih bisa meneruskan perjalanan dengan melewatinya, entah berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan dengan cara bagaimana kita bisa melewatinya. Masih ada jalan lain untuk melewati batu itu, entah dengan putar balik mencari jalan lain, melompatinya, menyisihkannya, atau mungkin minta bantuan orang lain untuk memindahkannya. Yang terpenting, jangan sampai kita berhenti dan berpisah karenanya.

Aku yakin, masalah ini sebenarnya masih ada solusinya. Bila kemudian tiba-tiba kau memutuskan begitu saja hubungan kita, aku jadi curiga ada faktor lain dibaliknya. Mungkin kamu sudah bosan, atau ada cangkem-cangkem tetangga yang mencuci otakmu agar kau akhiri saja hubungan kita. Entahlah, aku tidak ingin banyak menerka. Selama ini aku selalu percaya pada semua yang kamu katakan. Kalau kamu memojokkanku dengan dalih aku tidak bisa merasakan apa yang kamu rasakan, lho kenapa kamu tidak cerita dan tiba-tiba begitu saja mengambil keputusan yang sepihak? Tak bisakah kamu lebih menghargai hubungan kita dengan tidak mengakhirinya begitu saja?

Yang membuatku lebih heran lagi, mudah sekali kamu minta aku untuk mencari wanita lain. Kamu pikir hatiku ini hati macam apa? Bisa seenaknya pindah ke hati yang lain dalam waktu sekejap saja. Jangan-jangan kamu memang sengaja menggunakan kesempatan dalam kesempitan, dengan memanfaatkan masalah orang tuamu yang melarang hubungan kita karena menabrak adat pernikahan jawa sebagai alibi atas rasa bosan atau keinginanmu untuk memutuskanku sejak lama? Ah, hidup terkadang selucu ini. Seakan-akan aku sudah terlanjur mabuk oleh racun cintamu, lalu kau tinggal pergi begitu saja tanpa kau beri aku penawarnya.

Aku juga tau mengeluh, mungkin tak akan pernah merubah keadaan, pun pula aku menulis semua keluh kesahku di sini, mungkin tak ada gunanya. Terserah, aku bukanlah kamu, yang sok tegar dan sok kuat, yang seakan tidak pernah belajar bagaimana menghargai perasaan orang lain. Semoga, Allah mengganti semua rasa sakit dan kecewaku ini, dengan kebahagiaan yang berlipat-lipat, meskipun bukan kamu yang menjadi penyebabnya. Dan yang perlu kamu tau, aku mungkin adalah korban pertama yang menjadi korban kepercayaan orang tuamu terhadap mitos lusan besan. Selanjutnya, masih banyak mitos lain yang siap membelenggu hidupmu seandainya kamu tidak memiliki keberanian untuk meyakinkan mereka untuk tidak terlalu berlebihan mempercayai hal-hal semacam itu.

0 Komentar Ketika Cinta Tak Direstui Orang Tua yang Masih Percaya Mitos Pernikahan Adat Jawa

Posting Komentar

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top