Senin, 11 April 2016

Lusan Besan dan Hubunganku yang Kandas di Tengah Jalan

Sore itu, baru saja aku menjagangkan sepeda motorku sepulang dari tempat jahit. Seperti rutinitas harian yang ku jalani sekitar dua bulan ini, aku bekerja sebagai penjahit di tempat salah seorang penjahit ahli dekat Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Ponorogo. Belum sempat aku duduk dan masuk rumah, ku rogoh ponsel di saku celana dan ku buka Whatsappku. Entah mimpi apa aku semalam, seolah jantungku berhenti berdetak dan akal sehatku hilang dalam sekejap membaca satu pesan darinya yang meminta untuk mengakhiri hubungan yang sudah lebih dari 4 bulan terjalin.

Benar-benar kenyataan pahit yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Semua berawal dari kematian salah seorang tetangganya yang terkena kanker payudara. Kebetulan, yang meninggal itu adalah istri dari seorang pria yang dalam adat kepercayaan jawa dianggap sebagai pernikahan yang terlarang. Ya, namanya LUSAN BESAN. Dalam mitos jawa seputar pernikahan, memang anak pertama dilarang untuk menikah dengan anak ketiga karena itu namanya LUSAN BESAN di mana apabila dilanggar, maka akan dapat mendatangkan bencana, musibah, dan berbagai kesialan baik dalam hubungan rumah tangga kedua mempelai atau orang tua kedua mempelai itu.

Dari peristiwa kematian tetangganya itu, kemudian orangtuanya, tepatnya kakeknya, mewanti-wanti dia agar tidak menjalin hubungan dengan anak pertama. Lha dalah, dari sinilah kandasnya hubungan kami berawal. Dia, bersama dengan ayah dan ibunya, diwejang dan diinterogasi apakah saat ini sedang menjalin hubungan kasih dengan anak pertama atau tidak. Mau bagaimana lagi, akhirnya dia pun jujur mengakuninya.

Sebetulnya dia sudah berusaha untuk melawan dengan meyakinkan kedua orang tua dan kakeknya bahwa kematian seseorang itu tidak ditentukan oleh mitos jawa (lusan besan) yang dilanggarnya, namun karena semata-mata memang takdir Allah bahwa garis takdirnya seperti itu. Tapi apalah daya, yang namanya orang tua pasti kolot kalau punya prinsip dan keyakinan. Mau tidak mau, dia dipaksa agar segera mengakiri hubungannya denganku, anak pertama harus menjadi korban cinta terlarang mitos lusan besan.

Hari Rabu, 6 April 2016, adalah hari runtuhnya semua mimpi dan harapan yang tak akan pernah ku lupakan dalam hidupku. Kakeknya meminta dia agar segera memutuskan hubungannya denganku karena kasihan dengan orang tuanya, sebelum terlalu jauh, sebelum sampai pada jenjang pernikahan. Sebab si kakek itu berkeyakinan bahwa kalau kami sampai melanggar pantangan Lusan Besan, maka akan timbullah bencana yang menimpa kedua orang tuanya. Apalah dikata, mau tak mau akhirnya dia nurut juga sama omongan si kakek untuk mengakhiri hubungannya denganku.

Kowe pora kudu misoh lek moco ngeneki...??
Sebenarnya, jauh sebelum peristiwa ini memuncak, aku dengan dia sudah mengomunikasikan soal ini. Kami juga tau kalau secara adat jawa, hubungan kami ini Lusan Besan. Langkah antisisapi sebenarnya sudah kami lakukan. Saat itu, dia pernah mengonfirmasi tentang hubungan kami yang Lusan Besan ini sama kedua orangtuanya dan mereka bilang itu tidak masalah. Orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anaknya, begitu katanya. Aku pun juga begitu, sudah kukonfirmasikan tentang hubungan kami dan jawabannya pun sama. Orangtuaku merestui hubungan kami. Hanya saja waktu itu dia belum mengonfirmasi kakeknya.

Dan sekarang? Semuanya berubah total sejak negara api menyerang. Karena doktrin dari kakeknya, orang tuanya pun jadi ikut-ikutan mengimani mitos itu. Menurut beberapa literatur yang aku baca dan pendapat dari beberapa orang yang aku tanya langsung tentang Lusan Besan ini, Lusan itu berasal dari dua istilah jawa yaitu 'ketelu atau telu' dan 'kepisan', artinya tiga dan satu. Sedangkan besan artinya mertua. Jadi lusan besan itu artinya pernikahan antara anak ketiga dan anak pertama, di mana keluarga yang berasal dari anak ketiga sudah tiga kali menerima besan (mertua) sedangkan keluarga yang berasal dari anak pertama baru satu kali menerima besan (mertua).

Dalam kepercayaan orang jawa, pernikahan seperti itu adalah pernikahan yang terlarang. Ada yang mengatakan nanti kalau punya anak akan cacat, akan datang musibah bertubi-tubi, dan hal-hal lain yang intinya tidak mengenakkan. Keyakinan akan timbulnya berbagai madharat tersebut didasarkan pada kebiasaan yang disebut dengan 'titen' atau 'niteni'. Berdasarkan pengalaman orang-orang sebelumnya, bahwa memang banyak terjadi kasus pernikahan Lusan Besan itu membawa berbagai kemadharatan. Dan peristiwa itu terjadi secara berulang-ulang dalam waktu dan tempat yang berbeda. Dari situlah orang jawa kemudian niteni dan berkesimpulan bahwa Lusan Besan lah yang menjadi penyebab munculnya berbagai kemadharatan.

Entah siapa yang memulai, aku juga tidak tau. Ada juga yang mengatakan kalau Lusan Besan itu dilarang karena persoalan watak. Anak pertama cenderung memiliki watak sebagai seorang pemimpin dan ingin selalu ditaati, sedangkan anak ketiga cenderung berwatak manja. Jadi kalau menikah dikhawatirkan hubungannya tidak harmonis dan jauh dari kata bahagia.

Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu percaya dengan hal-hal semacam itu. Toh banyak juga orang-orang di sekitarku yang Lusan Besan namun keluarganya juga bisa hidup tenteram dan bahagia. Rezeki mereka lancar, hubungannya harmonis, anak-anaknya baik, dan ibadahnya pun rajin. Setauku, tidak semua mitos jawa itu menjadi pakem hukum sebab-akibat yang tidak bisa ditawar lagi. Ada beberapa kepercayaan, termasuk pernikahan Lusan Besan ini, yang sebenarnya boleh saja dilakukan asal dengan dengan syarat-syarat tertentu sebagai upaya untuk menolak datangnya madharat yang mungkin timbul karenanya.

Dari apa yang aku alami saat ini, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia lebih memilih untuk tetap mengakhiri hubungan kami daripada nantinya tidak direstui. Walau aku sudah berusaha mengubah keputusannya, tetap saja dia tidak mau. Bagiku, dia terlalu cepat menyerah pada kenyataan. Selama ini dia adalah orang yang penuh tekad dan semangat, tidak hanya dalam aktifitas kesehariannya, tapi juga selalu memberiku semangat setiap harinya. Tapi ketika tiba-tiba dia dihadapkan dengan masalah ini, mendadak runtuh semua tekadnya. Seolah-olah tiada lagi yang bisa diharapkan dan tak ada lagi satu pun usaha yang dapat mempertahankan hubungan kami.

Aku sendiri bingung harus berbuat apa. Akhirnya, aku mencoba untuk mengirim pesan lewat facebook kepada kakak perempuannya agar dia ikut membantu agar hubungan kami dapat terus berlanjut. Tapi apa yang ku dapat...?? Bukannya dukungan dan bantuan, malah dia melarang dia untuk pacaran. Keesokan harinya dia memintaku agar tidak lagi menghubungi kakaknya yang katanya kakaknya itulah yang membiayai dia kuliah. Lengkap sudah penderitaanku, aku tak lagi bisa berkata apa-apa. Masalah yang tadinya soal lusan besan, ditambah persoalan duit.

Sampai detik ini, egoku benar-benar belum bisa menerima kenyataan ini. Berat, sungguh berat. Apa yang telah aku perjuangkan dan jalani bersamanya, kini harus aku kubur dalam lumpur kekecewaan. Sakit sekali hatiku bila mengingat janji dan kata-kata manisnya dulu yang akhirnya meluluhkan hatiku untuk menerima kehadirannya. Dulu aku tak kuasa untuk menolaknya. Dalam setiap kata dan tindakannya, dia selalu menunjukkan sinyal cintanya. Dia juga selalu menyindirku agar tak lagi galau dan move on dari kesedihanku masa lalu, kemudian menerima kehadirannya sebagai kekasih yang baru.

Dan seiring berjalannya waktu, aku pun bisa mencintainya. Walau pada awalnya aku tak merasakan apa-apa, mungkin memang benar pepatah jawa 'witing tresno jalaran soko kulino', cinta bisa tumbuh karena keterbiasaan, terbiasa bersama, terbiasa bertemu, dan terbiasa bercanda tawa meski hanya lewat pesan singkat dan pesan suara. Tapi kalau tau akhirnya akan seperti ini, menyesal sekali rasanya dulu aku mau menerimanya. Seperti diajaknya terbang setinggi awan, kemudian dijatuhkan tubuhku ke dalam jurang. Sungguh, sakit sekali rasanya. Penyesalan tinggallah penyesalan, tak ada arti dan gunanya lagi. 7 hari 7 malam ku tangisi pun tak akan merubah keadaan.

 Aku juga sama sekali tak mengingkari kalau semua ini adalah bagian dari Skenario-Nya, yang memberi nafas kehidupan bagi setiap makluknya. Aku hanya ingin sedikit berusaha. Roda kehidupan terus berputar, bila puncak putaran itu berada pada titik hitungan yang ke seratus, bisa jadi keputusanmu untuk menyerah ini adalah yang kesembilan puluh sembilan, di mana Allah akan menyatukan kita kembali pada usaha yang keseratus. Aku tidak senaif dan sesempit itu dalam berpikir, aku masih berharap agar orangtuanya bisa berubah dan akhirnya merestui hubungan ini.

Tapi dia memilih untuk bersikukuh dengan keputusannya untuk mengakhiri hubungan ini. Dan kini, aku tiada artinya lagi. Aku hanyalah orang yang sebentar tinggal dan mengisi hari-harinya kemudian diminta pergi begitu saja. Aku kalah, aku mengalah. Sungguh sayang sekali, tekadnya begitu rapuh bak ranting kayu yang kering. Yang bisa ku lakukan sampai sekarang hanyalah diam meratapi nasib dan berharap pada Allah bahwa ini adalah yang terbaik buatku. Aku juga berusaha untuk tidak membencimu. Ku doakan, semoga keputusanmu merupakan penyelamatmu dan keluargamu, terutama kakekmu yang menentangnya.

Semoga saja di antara kalian yang membaca tulisan ini, tak ada yang merasakan rasa sakit seperti yang aku alami. Sekarang aku hanya bisa berjuang untuk menerima semua kenyataan ini. Cukup sekali saja aku rasakan betapa sakitnya perpisahan karena cinta yang terlarang adat jawa, Lusan Besan. Mungkin memang ada yang salah dengan hubunganku ini, entah prosesnya, berdoanya, atau memang belum waktunya. Dan lagi, aku harus belajar untuk berlapang dada, bahwa semua yang ku harapkan tak dapat terwujud. Dalam setiap kekecewaan, sakit hati, dan penderitaan, akan segera datang kebahagiaan yang baru, Semoga. Baca juga Perbedaan antara Pacaran dan Ta'arufan

0 Komentar Lusan Besan dan Hubunganku yang Kandas di Tengah Jalan

Posting Komentar

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top