Sabtu, 03 September 2016

Because Love is a Struggle

Pagi ini aku terjaga dengan beberapa hal yang cukup memusingkan nalarku. Tentang makna cinta. Aku tau itu pasti terdengar sangat klasik. Tapi... apakah semua orang berani menyelami nalarnya sendiri untuk memaknai cinta? Bukan... maksudku bukan memaknainya hanya sebagai lima huruf yang dapat dieja dengan mudah, atau sepotong kata iloveyou yang cukup mudah diucapkan. Melainkan sesuatu yang lebih dari itu.

Di sinilah timbul pertanyaan yang memusingkanku pagi ini. Ketika teh hangat dan sarapan lezat pagi tak cukup menggugah selera makan dan di saat memejamkan mata tak seasyik menyelami pikiranku sendiri. Aku lebih tertarik untuk berdialektika dengan pikiranku sendiri.

Terlalu angkuh rasanya untuk bicara tentang cinta. Sebelum pagi ini menyadarkanku, pandanganku tentang cinta hanyalah sebatas tertawa bahagia bersama kekasih. Bukankah begitu? Lantas, mengapa banyak pasangan harus berpisah karena permasasalahan yang sebenarnya dapat mereka lewati bersama? Katanya cinta.


Sebelum sejauh itu, aku hanya ingin memberikan hipotesisku mengenai hidup. Menurutku... hidup hanya mempunyai dua pilihan, berjuang atau menyerah. Mengapa? Karena semua orang harus berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan. Dan ketika dia menyerah, maka seluruh harapan hilang.

Urusan keluarga, pekerjaan, dan relasi, semuanya butuh perjuangan. Untuk mendapatkan posisi yang kita harapkan, dan pengharapan yang tercapai bukankah salah satu jalan menciptakan kebahagiaan? Lantas, mengapa tuhan menciptakan cinta?

Kalau cinta ujung-ujungnya sakit mendatangkan sakit, tangis, tengkar, orang ketiga, dan banyak sisi negatif lain yang hanya dapat memperburuk diri, menghancurkan mimpi, memperburuk keadaan saja kan?

Ya... itulah pandanganku tentang cinta sebelum aku terbangun pagi ini. Sebelum aku tau betapa sulitnya menjaga perasaan. Betapa sulitnya menerima kekurangan. Dan betapa rumitnya berbagi waktu. Ternyata cinta mempunyai sisi yang tak kusadari, yaitu Perjuangan.

Mengapa? Karena cinta tak hanya berbicara tentang kekasih. Cinta berbicara tentang keluarga, juga teman. Ketika ayah dan ibuku mampu bertahan lebih dari 30 tahun menikah, sementara sepasang kekasih hanya mampu berpacaran hingga tiga tahun. Mengapa? Karena ayah dan ibuku memiliki cinta. Tak hanya cinta mereka berdua. Tapi juga cinta mereka pada aku dan saudara-saudaraku. Banyak sakit hati yang mereka rasakan. Banyak kesalahpahaman yang mereka perdebatkan. Banyak pertengkaran besar yang mereka lalui. Tapi mereka tetap bersama. Mengapa? Karena mereka percaya, perjuangan itu nyata. Perjuangan akan membawa kebahagiaan. Dan bertahan adalah satu-satunya hal paling sulit yang pernah mereka lakukan.

Di sisi lain, ita punya relasi yang cukup luas. Sahabat adalah cinta keempat dalam hidup setelah Tuhan, keluarga, dan diriku sendiri. Lihat betapa banyak sahabat yang terpisah? Karena mereka memilih menyerah untuk persahabatan mereka. Tak sedikit pula yang bertahan. Karena mereka tau perjuangan mereka akan mendatangkan tawa di kemudian hari. Kurasa kita semua bisa membayangkan betapa asyiknya reuni bersama mereka. Terlalu indah untuk menyerah dengan jarak dan waktu.

Begitu pula denga cinta kelimaku. 25 tahun menyinggahkanku kepada beberapa hati. Sungguh... cinta ini yang paling menyakitkan. Menancap paling dalam. Dan mempunyai resiko paling besar kalau-kalau aku salah berbuat.

Aku lelah dengan diriku sendiri. Banyak kata tak sengaja yang akhirnya membuat cinta pergi. Banyak laku tak berubah yang akhirnya mengantarkanku pada kesendirian lagi.

Aku tau apa yang harus ku cari. Hanya 3 kok, Tuhan. Yang penting dia seiman, mampu menerima apapun yang ada dalam diriku, dan mau berjuang untuk mempertahankan cinta sesulit apapun rasa menggoyahkan namun tanpa keterpaksaan.

Aku melihat cinta kelimaku seperti berjalan di sebuah hamparan bunga. Aku tak mencari bunga yang paling harum. Bukan juga bunga yang paling besar. Sungguh Tuhan, aku hanya mencari satu bunga yang berbeda dari bunga lainnya. bunga yang hanya dapat kupetik untukku dan tak akan dimiliki orang lain. Aku lelah dengan diriku kemarin. Diri yang sama saja dengan orang lain, terlalu mudah bilang kata-kata gombal, bilang cinta, bilang sayang... ah, menggelikan.

Sungguh diri yang tidak dewasa, iya kan? Diriku pagi ini kembali menamparku dengan sangat keras, katanya jangan terlalu berharap. Jangan terlalu mengharapkan kebahagiaan abadi.

Kini aku berlabuh pada satu hati. Yang terdapat banyak cinta. Aku berhasil memetik bungaku. Bunga yang tidak besar dan tidak harum. Lantas apa yang membuat dia sehingga kupetik?

Ya... dia berbeda, sungguh keistimewaan yang paling besar dari sosok manusia adalah keterbedaan. Dia tidak sempurna, bukan penyabar yang amat, bukan orang yang lembut, dan sukar menerima kritik. Dia jauh sekali dari kata sempurna, dia orang biasa.

Sungguh aku pun mempunyai banyak sekali kekurangan. Aku kekanakan, egois, mau menang sendiri, dan belum mandiri. Tapi dia menerimaku. Dia tidak pernah menuntutku untuk menjadi pria idamannya. Untuk menjadi pria yang sempurna. Ia tidak pernah menuntut itu karena ia tau bagaimana cara membuatku sempurna tanpa harus merubahku. Ternyata untuk membuat seseorang terlihat sempurna adalah tergantung bagaimana posisi orang tersebut di hati kita.

Ketika aku sibuk menuntut “kamu harus begini kamu harus begitu”, dia memilih diam dan tetap menempatkanku sebagai lelakinya yang sempurna. Ia mengubur segala keburukanku dan lebih melihat kelebihan yang ada pada diriku walau tak pernah ia tunjukkan secara langsung.

Kurasa diriku pagi ini harus menamparku lebih keras mengenai makna cinta. Cinta itu berujung, berjuang dan menrima bukan? Sama-sama berubah menjadi lebih baik. Iya kan? Dan yang paling penting cinta itu sulit sekali dipertahankan seperti ayah ibuku.

Laki-laki itu... tak perlu menawarkan rencana indah tentang masa depan. Karena menjalankan hidup hari ini lebih penting daripada berangan tentang masa depan yang masih abu-abu.

Ternyata hati dan otak harus hidup di ruang dan waktu yang sama. Ketika otakku hidup secara realistis, namun hatiku hanya berangan soal tawaran masa depan indah bersamanya, aku sadar aku hanya akan menemukan kehancuran. Tapi ketika otak dan hatiku sama-sama hidup di satu waktu, aku yakin mereka akan bekerjasama. Menuju kebahagiaanku yang sempurna. Ternyata, inilah cinta kelimaku.

Tuhan memberiku empat cinta melalui mereka yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Tuhan memelukku dengan cinta mereka. Tuhan menghiburku melalui mereka semua. Tak hanya kamu, tapi semua.

Tuhan, izinkan aku untuk tetap bersyukur dan menjadi orang yang mau berjuang untuk semua cintaku. Untuk semua orang yang mencintaiku. Untuk semua yang telah mereka lakukan. Izinkan aku menjadikan mereka orang yang tak akan pernah kulepas. Aku sangat mencintai mereka Tuhan.

Created by: Bella Putri Andhyni

0 Komentar Because Love is a Struggle

Posting Komentar

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top