Kamis, 15 September 2016

Hamil Di Luar Nikah dalam Pandangan Islam

Di era global seperti sekarang ini, kasus wanita hamil di luar nikah kian merajalela. Pelakunya didominasi oleh kalangan remaja yang notabene masih berstatus sebagai siswa. Bila diamati secara seksama, ada banyak faktor yang mempengaruhi semakin maraknya kasus hamil di luar nikah ini, mulai dari faktor sosial, budaya, sampai dengan faktor ekonomi. Lingkungan sosial, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat yang cenderung permisif serta apatis terhadap pola hubungan antar lawan jenis, membuat para remaja memiliki kebebasan yang lebih untuk melakukan hubungan yang sampai pada tingkat berhubungan badan dengan lawan jenisnya.

Selain itu, kondisi ekonomi orang tua yang cukup mapan membuat para remaja semakin mudah dalam mengakses berbagai hiburan dan kesenangan melalui konsumsi alat-alat teknologi serba canggih. Penggunaan media IT yang tidak tepat berkontribusi dalam mensukseskan para remaja tenggelam ke dalam pergaulan bebas yang keluar dari batasan-batasan norma, etika, dan hukum-hukum agama. Kebebasan pergaulan antar lawan jenis di kalangan remaja yang kian tidak terkontrol lagi, hingga pada akhirnya berujung pada kasus kehamilan yang tidak diinginkan merupakan penyakit seris yang harus segera diobati sampai ke akar-akarnya.

Banyaknya kasus hamil di luar nikah juga dipicu oleh kondisi keluarga yang broken home.Kondisi psikologis remaja yang masih labil, apabila tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang serius dari keluarga, maka mereka akan cenderung untuk mencari solusi di luar dengan bersenang-senang. Salah satu cara yang digunakan ialah dengan melakukan hubungan intim dengan pacar. Akibat perbuatan tersebut maka menjadi banyak remaja putri yang harus menanggung aib hamil di luar nikah.

Sebenarnya, Islam sudah menyediakan jalan terbaik bagi penyaluran kebutuhan biologis manusia berupa ikatan pernikahan, bukan dengan perzinaan yang justru merendahkan dan menjatuhkan kehormatan manusia itu sendiri di hadapan Allah dan manusia. Tentang Hukum Kawin Hamil, yaitu kawin dengan seorang wanita yang hamil di luar nikah, baik dikawini oleh laki-laki yang menghamilinya, maupun oleh laki-laki lain, dilihat dari perpektif fiqih, para ulama berpendapat :

Ulama madzhab empat (Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali) berpendapat bahwa perkawinan keduanya sah dan boleh bercampur sebagai suami istri, dengan ketentuan, bila yang mengawininya itu adalah pria yang menghamilinya.

Ibnu Hazm berpendapat bahwa keduanya boleh (sah) dikawinkan dan boleh pula bercampur, dengan ketentuan, bila telah bertaubat dan menjalani hukuman dera (cambuk), karena keduanya telah berzina. Selanjutnya, mengenai pria yang kawin dengan wanita yang dihamili oleh orang lain, berikut pendapat para ulama:

Imam Abu Yusuf mengatakan, keduanya tidak boleh dikawinkan. Sebab bila dikawinkan perkawinannya itu batal. Pendapat beliau ini didasarkan pada Q.S An-Nur ayat 3.
Ibnu Qudamah mengatakan, "Seorang pria tidak boleh mengawini wanita yang diketahuinya telah berbuat zina dengan orang lain, kecuali dengan dua syarat:
  1. Wanita tersebut telah melahirkan, bila ia hamil. Jadi dalam keadaan hamil ia tidak boleh kawin.
  2. Wanita tersebut telah menjalani hukuman dera (cambuk), apakah ia hamil atau tidak."
Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i berpendapat bahwa perkawinan itu sah, karena (si wanita) tidak terikat perkawinan dengan orang lain (tidak ada masa iddah). Wanita itu juga boleh dicampuri, karena tidak mungkin nasab bayi yang dikandung itu ternodai oleh sperma suaminya. Sedangkan bayi tersebut bukan keturunan orang yang mengawini ibunya itu." Jadi, status anak itu adalah anak zina, bila pria yang mengawini ibunya itu bukan pria yang menghamilinya. Namun bila pria yang mengawini ibunya itu adalah pria yang menghamilinya, maka terjadi perbedaan pendapat:
  1. Bayi itu termasuk anak zina, bila ibunya dikawini setelah usia kandungngannya berumur 4 bulan ke atas. Bila kurang dari 4 bulan, maka bayi tersebut adalah anak suaminya yang sah.
  2. Bayi itu termasuk anak zina, karena anak itu anak di luar nikah.
  3. Dalam Kompilasi Hukum Islam, masalah ini dijelaskan dalam pasal 53 ayat 1-3 sebagai berikut:
  4. Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
  5. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya
  6. Dengan dilangsungkannya perkawinan saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang wanita yang hamil di luar nikah, yang jelas hal itu merupakan sesuatu yang dilarang oleh agama. Selain itu, hamil di luar nikah juga memicu berbagai tindakan tak terpuji lain seperti ab0rsi, p3mbunuhan terhadap janin, dan perasaan bersalah yang berkepanjangan. Bagi remaja yang masih sekolah, hamil di luar nikah juga dapat membuatnya dikeluarkan dari lembaga sekolah yang akhirnya berujung pada putus sekolah.

Referensi: - Abd. Rahman Ghazaly,
Fiqh Munakahat (Jakarta Timur: Prenada Media, 2003) 124-128 - NU Online

0 Komentar Hamil Di Luar Nikah dalam Pandangan Islam

Posting Komentar

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top