Senin, 05 September 2016

Pacaran dan Ta'arufan, Apa Bedanya?

Ketika mendengar istilah pacaran, yang tergambar dalam benak banyak orang yakni hubungan asmara laki-laki dan perempuan yang cenderung pada perbuatan-perbuatan negatif dan melanggar norma, baik agama maupun susila. Cukup beralasan memang, karena kenyataan yang terjadi saat ini memang seperti itu. Pengaruh lingkungan dan media (terutama televisi) yang terus menerus memberikan model gaya berpacaran, berdampak bagi kalangan masyarakat khusunya ABG labil untuk menirunya. Inilah mengapa istilah pacaran selalu cenderung bermakna negatif.

Pada umumnya, motif dari seseorang menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis dengan berpacaran ada dua, yang pertama untuk sekedar bersenang-senang, kedua sebagai bentuk pengenalan lebih dalam terhadap karakter masing-masing sebelum memasuki jenjang pernikahan. Dua hal ini sebenarnya berkaitan erat dengan faktor usia dan tingkat kedewasaan seseorang.

Motif yang pertama biasanya dilakukan oleh anak-anak yang menginjak usia remaja di mana pada masa-masa itu gejolak asmara terhadap lawan jenis begitu menggebu-gebu. Secara biologis mereka sudah cukup matang, namun belum secara psikologis. Akibatnya banyak terjadi kasus hamil di luar nikah dan fenomena seks bebas. Remaja dengan kondisi psikologis yang belum matang tidak dapat berpikir jangka panjang atas setiap tindakan yang mereka lakukan, sehingga mereka cari hanyalah pemuasan kesenangan demi kesenangan yang tak terkontrol.

Sedangkan motif yang kedua dilakukan oleh mereka yang sudah cukup umur untuk menikah dan baik secara fisiki maupun psikologis mereka telah cukup matang. Orientasi berpacarannya tidak hanya sekedar bersenang-senang, namun sebagai bentuk upaya memantabkan hati dalam memilih dan memilah mana yang paling cocok untuk dijadikan pendamping hidup.

bedanya antara pacaran dan taarufan

Kemudian ada fenomena yang cukup menggelitik pada sebagaian masyarakat kita, yakni munculnya istilah ta’aruf yang dinilai sebagai cara untuk mengekspresikan cinta dan mengenal karakter lawan jenis sebelum memasuki jenjang pernikahan, sebagai antitesis terhadap pacaran yang dinilai negatif.

Dalam hal ini, saya cenderung untuk sepakat dengan pendapat mas Ulil Abshar Abdalla yang menyatakan bahwa pada dasarnya ta’aruf itu merupakan istilah Arab untuk pacaran. Dengan kata lain, pacaran merupakan istilah lokal yang sama maknanya dengan ta’aruf yang notabene berasal dari bahasa Arab.

Pengguna istilah ta’aruf ini pada umumnya ialah mereka kaum yang cenderung tekstualis dalam memahami teks-teks sumber agama. Sehingga istilah-istilah lokal yang tidak berasal dari agama yang notabene berbahasa Arab, tidak bisa diterima, termasuk istilah pacaran. Melihat hal ini saya berkesimpulan bahwa pada dasarnya perdebatan yang terjadi antara orang yang menolak pacaran dan yang memperbolehkannya, hanyalah terletak pada perbedaan perspektif dalam penafsiran istilah serta praktik-praktik yang muncul dari istilah tersebut.

Antara istilah pacaran dan ta’arufan, yang meskipun secara substansial memiliki kesamaan makna, namun karena istilah pacaran terlanjur dianggap jelek karena telah ternodai oleh para pelaku yang menggunakan dan mempraktikkannya dengan tindakan-tindakan menyimpang dari norma agama dan masyarakat, maka kemudian dimunculkanlah istilah tandingan yaitu ta’aruf yang dinilai lebih bersih dan legal.

Dan karena secara substansial makna dari pacaran dan ta’arufan itu sama, maka di sini saya katakan boleh untuk berpacaran, tentunya dengan syarat pada praktiknya tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan norma, baik agama maupun susila. Jangan mudah terjebak dengan istilah atau terlalu fanatik dengan istilah tertentu sehingga kita begitu mudah menghakimi orang lain buruk dan salah jika cenderung memilih istilah yang berbeda dengan kita.

Lihatlah segala sesuatu secara substansial, jangan dari tampilan luarnya saja. Jadi intinya ada pada niat dan cara mengekspresikannya. Apabila ada seseorang yang mengatakan ia sedang ta’arufan dengan lawan jenis, namun pada praktiknya ia melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan etika, masihkah kita akan mempertahankan keyakinan bahwa ta’aruf itu yang halal dan selalu lebih baik dari pacaran?

Bila ada seseorang yang berpacaran, karena memang niat awalnya untuk saling mengenal karakter satu sama lain dengan batas-batas tertentu sebagai upaya memantabkan hati sebelum memilih apakah si dia benar-benar memiliki kriteria yang layak untuk dijadikan pendamping hidup atau tidak, apakah pacaran yang seperti itu buruk? Tentu tidak, bukan? Pacaran yang sejak awal diniatkan untuk saling mengenal satu sama lain demi terciptanya kebahagiaan dan keharmonisan dalam rumah tangga kelak, merupakan sesuatu yang sangat urgen, bahkan harus dilakukan. Asalkan, tidak keluar dari prinsip dan norma agama (islam) serta masyarakat.

Alhasil, ketika saya ditanya, harus pilih mana antara pacaran atau ta’arufan? Terserah anda, keduanya hanyalah dua istilah yang makna substansialnya sama. Yang membedakan hanyalah, bagaimana praktik yang anda gunakan untuk mengaktualisasikannya. Cinta kepada lawan jenis merupakan fitrah setiap manusia. Dan yang jelas, puncak dari cinta itu adalah setelah melalui prosesi aqad nikah.

0 Komentar Pacaran dan Ta'arufan, Apa Bedanya?

Posting Komentar

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top