Jumat, 02 September 2016

Perspektif Anti-Mainstream Tentang Konsep Jodoh

Berbicara soal jodoh, sebenarnya saya sudah pengen muntah saja membaca tulisan-tulisan yang membahas tentangnya, baik di sosmed maupun blog/web. Ada satu dalil dari ayat Al-Quran yg seringkali dikait-kaitkan dengan jodoh ini, yaitu ayat yang pada intinya menyatakan bahwa perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya. Namun sejauh yang saya amati, tafsiran mainstream ayat ini masih sangat tekstualis, sehingga memunculkan kesan bahwa laki-laki/perempuan yang buruk itu tidak pantas berpasangan atau berjodoh dengan laki-laki/perempuan yang buruk. Seakan-akan adil itu harus sama, yang baik sama yang baik, yang buruk sama yang buruk. Apakah Tuhan memang berkehendak sperti itu? Entahlah, namun yang jelas, setiap orang secara naluriah pasti menginginkan yang terbaik untuk dirinya, hanya saja terkadang standar kebaikannya itu tidak sejalan dengan prinsip-prinsip tentang kebaikan yang berlaku di masyarakat.



Di sisi lain, interpretasi seperti itu juga akan mengerdilkan, bahkan membunuh harapan seseorang yang merasa dirinya masih buruk dan banyak kekurangan, untuk mndapatkan jodoh yang lebih baik darinya. Seakan-akan rahmat Allah itu kok kyak miliknya orang-orang baik saja, sementara yang buruk musti gandengan sama yang buruk pula biar jadi buruk kuadrat, begitukah? hemm wallahu a'lam.


Sering pula saya baca kata-kata "memantaskan diri" untuk menjemput jodoh. Hahaha kok ya lucu, klise banget. Klo memang mau memperbaiki diri kenapa tidak semata-mata lillahi ta'ala saja. Memantaskan diri, apa biar dapet jodoh yang kualitas dirinya sesuai dengan dirimu setelah kamu melalui proses pemantasan itu, begitu? Butuh berapa lama itu? Pantas untuk siapa? Ukurannya apa? Bisa sampek level berapa pantasmu? :D Ah, sudahlah, toh itu juga soal kebebasan untuk memilih. Dan dari istilah "memantaskan diri" itu, telah banyak terlahir buku, video, dan motivator-motivator yang semua itu mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah serta membius para konsumennya.

Buat saya, tidak ada salahnya, bahkan mungkin seharusnya, kita itu punya cita-cita atau semacam harapan agar diberi jodoh yang lebih baik dari kita. Itu sah, dan tidak ada dalil yang mengharamkannya. Sudah kita ini banyak kekurangan, banyak dosa, terkdang masih kebelenggu sama doktrin interpretasi baik-buruk versi tekstualis di atas. Soal memperbaiki diri itu sudah merupakan kewajiban setiap manusia.

 Jangan pesimis, dengan buru2 menghakimi diri bahwa kita itu buruk, maka nantinya jodoh kita pun tidak beda jauh sama kita. Tuhan itu sesuai dgn persangkaan hambanya terhadap-Nya. Kalo kita berani berdoa, berharap kepada-Nya dengan kesungguhan, serta berusaha untuk mendapatkan jodoh yang lebih baik dari kita, insyaallah kita bisa mendapatkannya. Rahmat Allah itu luas, jd jangan dipersempit dengan hasil olah pikir kita yang serba terbatas.

Klo selama ini kita masih menganut pola pikir bahwa "jodoh itu cerminan diri kita", maka berpikirlah satu tingkat lebih tinggi di atasnya, bahwa sharusnya jodoh kita itu bukan hanya cerminan diri kita, tapi dia lebih baik dari kita. Walaupun nanti hasilnya tidak terlalu seperti yang kita harapkan, setidaknya kita pernah berjuang. Selalu ada hikmah di dalamnya, karena hidup ini adalah ujian, dan selalu pahami bahwa, dalam setiap apa yang kita usahakan, endingnya takdir Tuhanlah yang berbicara. Dan ingat rumus, Tuhan tidak pernah salah. ^_^

0 Komentar Perspektif Anti-Mainstream Tentang Konsep Jodoh

Posting Komentar

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top