Minggu, 30 Oktober 2016

Memilih Calon Istri yang Tidak Materialistis itu Realistis

Di zaman yang serba hedonis seperti saat ini, banyaknya harta menjadi impian kebanyakan orang. Terutama para wanita yang memang notabene lebih mudah silau terghadap gemerlapnya dunia materi. Banyak wanita sekarang yang ingin menikah dengan seorang pria mapan dengan penghasilan tinggi dan tetap. Alasannya satu, realistis. Mereka selalu mengatakan bahwa keinginan untuk menikah dengan pria yang kaya adalah hal yang realistis, bukan matre. Tapi benarkah seperti itu? Coba kalau kita tengok kondisi perempuan di zaman jahiliyah (arab pra islam), saat itu kondisi perempuan sungguh mengenaskan dan tak berharga. Setelah kedatangan islam, perempuan menjadi terhormat dan mulia dengan nilai-nilai islam. Namun ironisnya, justru banyak perempuan sekarang yang menghinakan diri mereka sendiri dan seakan lupa atas jasa islam dalam mengangkat derajat mereka.

Terkadang karena merasa dirinya cantik dan menawan, wanita menetapkan standar tinggi terhadap pria calon suaminya. Namun ketika wanita punya pikiran seperti itu, sebetulnya yang ingin dia lakukan adalah melakukan transaksi pertukaran antara nilai kecantikan dirinya dengan uang. Analogi sederhananya, wanita A menyediakan aset berupa kecantikan, sedangkan pria B harus membayar mahal untuk hal itu. Kelihatannya hal ini memang adil dan wajar-wajar saja.

Tapi bila dianalisis lebih dalam, ada sebuah kesalahan fatal di sini. Kecantikan yang dimiliki setiap wanita pada akhirnya akan sirna, tak abadi. Sedangkan uang yang dimiliki seorang pria kaya tidak akan mudah hilang tanpa adanya sebab dan alasan yang jelas. Bahkan bisa jadi penghasilan pria kaya akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tapi sebuah kecantikan, tidak ada wanita yang akan bertambah cantik setiap tahunnya.

Oleh karena itu, jika dianalisis dengan sudut pandang ilmu ekonomi: seorang pria kaya memiliki aset yang ter-apresiasi, sedangkan kecantikan yang dimiliki wanita adalah jenis aset yang ter-depresiasi. Jika hanya kecantikan yang dimiliki seorang wanita, maka nilainya akan sangat mengecewakan 10 tahun yang akan datang.

Dapatlah kita simpulkan bahwa, wanita yang memandang pria dari sisi banyaknya harta bukanlah wanita yang relistis, yang pantas dijadikan seorang pendamping hidup. Mereka terjebak oleh kefanaan materi yang hanya beberapa tahun saja rusak dan kehilangan sisi menariknya. Apalah artinya sebuah kecantikan yang tak dibalut dengan keindahan akhlak dan budi pekerti.

Buat para pria yang masih single, menentukan pasangan hidup merupakan hal yang sifatnya pilihan, di mana kita harus bertanggung jawab di dalam pilihan kita dan kelak kita akan dihisab atasnya. Oleh karena itu maka berhati-hatilah dalam memilih wanita yang ingin dijadikan istri. setiap dari kita oleh Allah dipersilahkan untuk memilih calon istri yang tepat. Allah telah membolehkan kita untuk menikahi wanita-wanita yang thoyyibah (enak, manis, lezat, dan menyenangkan), dan Allah pun tidak mencela atau melarang kita yang tidak mau menikahi seorang wanita karena kita merasa kurang pas dengannya, baik karena kurang secara fisik maupun dari sifatnya yang kurang baik, semua ini adalah persoalan pilihan

0 Komentar Memilih Calon Istri yang Tidak Materialistis itu Realistis

Posting Komentar

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top