Sabtu, 29 Oktober 2016

Tuhan, Aku Lelah dengan Hidup Ini

Di usia-usia ini aku tengah merasakan kegelisahan dan kebimbangan hidup yang seakan memuncak. Ketidak jelasan akan nasib di masa depan dan banyaknya tuntutan seakan mencekik dan menenggelamkan diri ke dalam lumpur ketakutan dan kekhawatiran. Tidak jelas mana yang seharusnya aku prioritaskan. Mulai dari keluarga, teman, lingkungan, seakan semuanya menyebalkan, egois, dan tidak punya perasaan. Yang aku rasakan hanyalah kehampaan dan kesepian. Terus bimbang dalam menentukan sebuah pilihan, tanpa ada yang mau memberi pencerahan. Ya Allah, hanya Engkau yang aku harapkan. Aku lelah memendam kekecewaan atas rasa berharap kepada sesama manusia. Untuk bersimpati saja mahal, apalagi berempati.

Keluarga, yang harusnya menjadi tempat penuh kedamaian, malah serasa begitu membosankan. Aku tak pernah memungkiri begitu besarnya jasa mereka. Berkat biaya dari keluarga, aku bisa sekolah dari TK sampai bangku perkuliahan, aku bisa makan dan minum kenyang setiap harinya, aku bisa tidur, dan lain sebagainya. Tapi kehampaan yang aku rasakan. Aku berusaha membantu mereka sesuai dengan kapasitas yang aku bisa. Aku juga tidak tega membiarkan mereka bekerja berat setiap harinya. Tapi mengapa, seakan tak ada sedikitpun rasa menghargai apa yang aku lakukan untuk mereka. Bahkan, masih saja usahaku untuk membantu mereka dianggap tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan anak tetangga. Mbok ya ndak usah lah membanding-bandingkan kemampuanku dengan anak tetangga, toh setiap orang punya kelebihan yang berbeda-beda.
Aku tak pernah bisa memahami bagaimana pola pikir orangtuaku sendiri. Aku tau, setiap saat mereka berdoa yang terbaik untuk anak-anaknya. Tapi mengapa, pada tataran praksisnya tindakannya merusak dan menghancurkan mental anaknya. Setiap hari, teriakan-teriakan hinaan selalu aku dengar.

Begini salah, begitu salah. Seakan hanya kalian yang memegang tongkat kebenaran. Apakah dengan besarnya jasa dan label kemuliaan mereka lantas bebas memaksakan segala kehendaknya pada anaknya? entahlah, aku lelah. Aku tidak sedang membela diri atau merasa menang sendiri. Tapi hanya mengungkapkan rasa kekecewaanku yang tak pernah sekalipun aku ungkap secara langsung di depan kalian. Karena bicaraku pasti dianggap sebuah lawanan, bahkan diam pun juga dianggap pengacuhan. Tak ada yang benar.

Dan teman-teman, hampir semuanya menggiringku pada hidup yang berorientasi pada wanita dan uang. Ada pula yang pandai koar-koar tentang idealisme, tapi kelakuannya sungguh jauh berbeda dengan idealisme yang ia simpan di otaknya. Seakan-akan mereka hanya hidup di dunia ide. Aku sendiri heran, bagaimana mereka bisa betah hidup dalam zona yang bagiku menjijikkan seperti itu. Sama sekali tiada kenyamanan di dalamnya, bagiku.

Aku dikelilingi oleh teman-teman yang sebagian besar gaya hidupnya serba hedonis dan materialistis. Orientasi masa depannya hanya uang..uang..dan uang. Hidup dalam buaian kemalasan dan pencarian kesenangan-kesenangan semu. Juga organisasi yang ditunggangi dan dikerumuni oleh orang-orang yang gemar bermain proyek dan pembohongan publik.

Beberapa wanita, yang menaburkan bunga-bunga asmara, dengan kata suka dan cinta. Yang sebenarnya, mereka mencintai untuk kebahagiaan dan kepuasan diri sendiri. Terbukti mereka merasa kecewa dan sakit hati ketika aku tidak memenuhi keinginan-keinginannya.

Dan aku sendiri, aku hanyalah seorang pendosa, Ya Allah. Setiap hari aku terus berbuat salah dan dosa. Aku menulis semua ini karena mulutku yang hina ini terasa kaku tuk mengungkapkan apa yang aku rasakan dan permohonan ampun kepada-Mu. Aku merasa begitu hina di hadapan-Mu. Begitu berat rasanya tuk meninggalkan segala dosa, juga berat sekali menjalankan ibadah kepada-Mu. Mungkin karena hatiku telah dikuasai nafsu dan setan. Hatiku telah penuh dengan noda-noda dosa yang hitam nan pekat.

Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu, dengan melalui perantara kekasihmu, nabi yang mulia, nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, ampunilah dosa-dosaku, jadikan aku, keluargaku, teman-temanku, dan orang-orang yang pernah mengenalku, senantiasa mendapatkan taufik, hidayah, inayah, Engkau ridhoi, dan ridho atas segala takdir-Mu. Amin...

2 Komentar Tuhan, Aku Lelah dengan Hidup Ini

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top