Sabtu, 19 November 2016

Ketika Seorang Pecundang Jatuh Cinta

Aku masih ingat betapa pecundangnya diriku waktu awal kuliah dulu. Hanya untuk berkenalan denganmu saja, aku harus melakukannya lewat sms ketika kamu sedang sakit. Aku tak pernah tau, rencana apa yang telah dirancang oleh Tuhan ketika Dia mempertemukanku denganmu. Setauku, sejak mata ini menangkap sosok anggunmu, di situ ku temukan sesuatu yang sangat istimewa bagiku. Hati ini seolah terus bergolak tuk menjelaskan sebuah rasa. Rasa, yang aku rasa berawal sebagai kekaguman saja.

Semenjak awal kita bertemu dalam kelas yang satu, sosokmu yang paling menarik perhatianku. Kesan pertama itu tak hanya berhenti dalam sekejap waktu. Tanpa kamu tau, setiap tingkah kocak dan konyolmu, diam-diam aku rekam dengan sangat rapi dalam keterbatasan ingatanku. Kelakuanku bak CCTV kampus yang tak melewatkan hal sekecil apa pun tentang kamu.


Bahkan akhirnya aku tau kalau kamu adalah penulis yang selalu sibuk bergumul dengan diksi-diksi pilihan untuk mewakili imajinasimu. Semenjak itu, aku tau bahwa kamu dan aku punya passion yang satu, menulis. Tapi sayang, ndasku mesti mumet coba-coba memahami diksi tingkat dewamu. Memang, karaktermu berbeda dengan karakterku. Kamu cenderung ke fiksionis, sedangkan aku non-fiksionis. Dan menurutku, perbedaan itu tak akan menjadi jurang pembatas untuk mempertemukan karakterku dan karaktermu. Justru, bukankah dua hal yang berbeda sangat mungkin bertemu pada titik yang satu? Pikirku.

Semakin lama semakin ku rasa, sang waktu telah memainkan perannya untuk mendekatkan aku denganmu. Kegiatan perkuliahan yang kita jalani di bawah atap kelas yang satu, berkontribusi sangat besar atas kedekatanku denganmu. Walaupun sifat pecundangku masih membatasiku sebagai penganggum rahasiamu. Tapi aku masih memiliki sisa nyali untuk sekadar menyapamu dengan senyum (tidak) manisku. Setidaknya, aku mulai merasa lebih dekat denganmu.

Semenjak itu, seakan aku selalu ingat tentang gerak-gerik keseharianmu. Tak ada rasa canggung lagi darimu untuk sekedar berbagi cerita denganku. Bahkan karena mungkin terlalu seringnya kita terlihat saling berbagi kisah tentang sesuatu, banyak yang mengira kamu dan aku telah terikat dalam janji cinta yang satu. Tapi mereka tak pernah tau yang sebenarnya tentang aku dan kamu. Sebab kamu selalu menutup mulut ketika komentar dan praduga mereka layangkan kepadamu.

Tak berbeda jauh denganku. Perhatian-perhatian kecilmu padaku membuatku lancang tuk berasumsi bahwa kamu memiliki rasa yang sama denganku. Suatu waktu, ada perhatian-perhatian yang melebihi batas kewajaran seorang teman kamu berikan padaku.

Tapi di saat yang lain, sikapmu lebih dingin dari air yeng membeku. Kamu paksa aku bertanya-tanya, sebetulnya ada rasa apa dibalik perhatianmu itu? Dan kenapa perlakuanmu padaku tidak konsisten seperti itu? Mungkinkah aku salah menerka maksud perhatianmu padaku? Dan apakah sikap dingin itu sebagai pertanda bahwa kamu cuma melakukan apa saja sesuka hatimu? Padahal perhatianmu membuatku tak mengerti, mengapa aku selalu ingin melihat dan dekat denganmu.

Ada rasa galau yang tak dapat ku pahami ketika aku tak mendapati hadirnya dirimu dalam momen perkuliahan. Ada rasa cemburu yang tak ku pahami saat melihatmu asik bersanding dan bercengkrama dengan pria lain yang tak ku kenal, bahkan yang ku kenal sekalipun. Barangkali sudah ratusan kali hatiku merasa muak dengan semua itu. Ingin marah, berteriak, dan melampiaskan rasa cemburu yang menusuk kalbu.

Sedekat apapun jarak fisik antara aku dan kamu, tak lantas membuatku memiliki hak pembelaan atas rasa sakit yang kamu goreskan dalam hatiku. Juga atas tetesan air mataku yang tak pernah aku tampakkan. Kamu tak pernah sadar atas rasa sakit yang menyayat hatiku perlahan-lahan.

Bagaimana bisa aku begitu takut kehilangan kamu yang bahkan aku tidak tahu pasti kepada siapa hatimu kau tambatkan. Salahkah jika kekagumanku akan sosokmu menjelma menjadi cinta? Padahal kamu juga tau, aku tak kuasa menolak hadirnya cinta.

Rasa ini semakin membuatku dilema. Setiap episode kenangan yang pernah kita lakukan bersama, menjadikan rasa ini semakin tumbuh subur bak tanaman di musim penghujan. Aku harus menganggungya sendirian. Di satu sisi aku tidak ingin menanggung rasa ini terus-menerus dalam ketidakjelasan. Namun di sisi lain, aku merasa saat ini belum tepat untuk diungkapkan.

Akhirnya, dengan bekal sedikit keberanian dan optimisme yang tersisa, aku beranikan diri untuk mengungkapkan. Mengungkapkan rasa yang mungkin tak pernah kamu bayangkan.

Malam ini, dengan segenap harapan yang tersisa, aku mencoba mengungkapkan, tentang rasa yang selama bertahun-tahun aku pendam. Tak kuasa lagi aku menahannya. Semakin lama aku menahan, rasa ini semakin liar dan sulit untuk dikendalikan.

Jawaban yang kamu berikan, telah menjelaskan rasa yang selama ini hanya aku asumsikan lewat senyum dan tatap matamu yang menyejukkan. Kau bilang, masih merasakan trauma atas rasa sakit di masa lalu yang kini tlah menjelma menjadi kenangan. Kau bilang, untuk mendapatkan sebuah kepastian, tidak cukup bagiku hanya sekedar ucapan. Tidak. Tidak cukup hanya sekedar ucapan dan kata cinta. Mungkin, kau pernah begitu tulus dan serius mencintai, namun akhirnya disakiti dan patah hati, kasian sekali..!!

Aku lega, walau tidak munafik juga, bila di saat yang sama aku menelan rasa sakit dan kecewa. Lega, sebab aku telah mendapatkan jawaban atas dugaan-dugaan yang telah bertahun-tahun mengganggu pikiran, membuat hari-hariku larut dalam tanda tanya akan sebuah rasa. Sakit dan keceawa, karena aku baru tau bahwa selama bertahun-tahun pula aku telah salah menerka. Perhatianmu, senyummu, dan tatapan matamu, ternyata tak lebih dari bentuk kasih sayang dan kepedulian seorang teman. Padahal semua itu, dalam hatiku, tlah menumbuhkan rasa lebih yang berbeda dari sekedar teman biasa.

Tapi ya.....begitulah kenyatannya. Aku rasa wajar jika aku merasa sakit hati dan kecewa. Mengingat kapasitasku sebagai manusia biasa, sebagaimana kamu yang masih trauma dengan rasa sakit di masa lalu. Entah, aku tak pernah tau (dan tidak berhak tau) seperti apa rasa sakit yang kamu derita dan bagaimana beratnya perjuanganmu meneruskan langkah kehidupan dengan hati yang masih tersayat.

Kauu bilang, tidak cuma kata cinta dan ucapan saja untuk mendapat jawaban atas sebuah rasa, karena “Setiap orang punya masa lalunya sendiri”. Ya, jelas, dan aku bisa memahaminya. Setiap orang punya masa lalu yang pasti tidak sama, termasuk aku dan kamu. Tapi apakah hal itu membuat kata ungkapan cinta tak lagi berarti? Memang tidak, seperti katamu, untuk mendapatkan sebuah jawaban yang perlu pertimbangan dan keputusan yang matang. Entah laki-laki mana yang dulu menyakitimu hingga meninggalkan trauma yang mungkin sampai sekarang masih tersisa.

Terima kasih, kamu masih memberikan aku secercah harapan dengan satu ungkapan “kamu tak pernah menutup hatimu”. Aku memaknai bahwa yang terjadi saat ini hanya penundaan saja, bukan satu keputusan yang final yang tak dapat merubah segalanya.

Manakala takdir baik dan waktu yang tepat telah bersekutu, semoga saja Allah subhanahu wa ta’alaa meridhoi jalanku untuk tinggal di satu atap rumah yang sama, dan memantaskanku untuk menjadi imam terbaik buat kamu dan anak-anak kita. Kalau saat ini masih tertunda, biarlah, rencana Allah pasti yang terbaik bagi setiap makhlukNya. Semoga.

Ponorogo, 02 Juni 15

0 Komentar Ketika Seorang Pecundang Jatuh Cinta

Posting Komentar

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top