Jumat, 23 Juni 2017

Pengertian Sakinah Mawaddah Warahmah dalam Pernikahan

Dalam islam, kebahagiaan rumah tangga/keluarga tidak ditentukan oleh banyaknya materi atau tingginya jabatan. Akan tetapi diukur dari sebarapa besar dan kuat keimanan dan ketaqwaan seseorang terhadap agamanya.

Pernikahan merupakan ikatan yang kuat antara dua insan manusia. Tidak hanya untuk jangka waktu yang sifatnya sementara, namun selamanya sampai ajal memisahkan. Kebahagiaan rumah tangga dalam islam diistilahkan dengan sakinah mawaddah warahmah. Inilah puncak tujuan dalam sebuah pernikahan, yang tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan duniawi, tapi juga kebahagiaan ukhrawi.

Apa arti Sakinah Mawaddah Warahmah?


Sudah kita pahami bersama, bahwa yang diinginkan dari pernikahan adalah adanya kebahagiaan (sa'adah). Padahal, menurut tesis al-Ghazali, "Tidak ada kebahagiaan tanpa ketenangan". Sementara itu, ketenangan/ketentraman (sakinah) ini bisa terwujud manakala dalam keluarga terdapat support Mawaddah dan Rahmah secara berimbang.

Mawaddah artinya "cinta kasih", sedangkan Rahmah adalah "belas kasih". Rasa cinta muncul seringkali dipersepsikan hanya didorong oleh ego syahwat manusia yang diistilahkan dengan "mahabbah thabi'iyyah" (cinta alami-manusiawi); cinta karena faktor kelebihan dari pasangan. Padahal ada juga cinta yang dilatar belakangi pertimbangan akal, diistilahkan dengan "mahabbah 'aqliyah" (cinta rasional); belas-kasih karena faktor kekurangan dan kelemahan dari pasangan.

Pada mulanya, saat masih berstatus pengantin baru (just married), yang muncul adalah "mahabbah thabi'iyyah". Karenanya, mawaddah (cinta-kasih) seringkali lebih dominan dan kurang berimbang. Namun, saat pernikahan sudah berlangsung lama bahkan mungkin sudah beranak-cucu, kerapkali "mahabbah thabi'iyyah" mulai surut. Dalam kondisi inilah "mahabbah 'aqliyah" mulai muncul yang berdampak sifat "Rahmah"-nya lebih dominan dibanding sifat "Mawaddah"-nya.


Tidak adanya keseimbangan antara mawaddah dan rahmah, seringkali berdampak negatif bagi keluarga, bahkan terkadang bisa menghilangkan ketentraman dalam keluarga, kecemburuan yang berlebihan, dan lunturnya rasa saling percaya (trust) antara suami-isteri. Oleh karenya, "Mawaddah" seharusnya menjadi sumber inspirasi yang bisa menumbuhkan bibit-bibit "Rahmah". Demikian juga sebaliknya, "Rahmah" mestinya juga menjadi inspirasi bagi yang dapat menumbuhkan "Mawaddah". Keduanya bagaikan dua sisi mata uang, bisa dibedakan namun tak bisa dipisahkan.

Dengan support sifat Mawaddah dan Rahmah secara seimbang inilah, kerukunan, keharmonisan, saling menghargai dan memahami posisi serta potensi masing-masing sehingga ketenangan dan kebahagiaan yang menjadi tujuan puncak (ultimate goal/aqsha al-ghayah) dari suatu pernikahan dapat terealisasi.

0 Komentar Pengertian Sakinah Mawaddah Warahmah dalam Pernikahan

Posting Komentar

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top