Minggu, 27 Agustus 2017

Apa sih Enaknya Nikah?

Ehem! Maaf-maaf nih kalau tulisan ini bikin seseorang jadi maju-mundur mau nikah. Ini bukan kampanye anti nikah. Bukan juga mau nakut-nakutin yang udah nekat mau nikah meski modal gombal dan cinta doank. Ups! Maaf….

Jadi gini, beberapa postingan yang saya baca tentang pernikahan dan rumah tangga, hampir semua menuliskan hal-hal manis doank. Romantisme berpahala, saling motivasi dalam ibadah, dan pasangan yang kedua-duanya saling pengertian.

Nggak salah juga sih, pada kenyataannya memang sepasang manusia yang telah menikah akan mendapat lipatan pahala dan rezeki. Berpegangan tangan saja bagi suami istri akan mendapat pahala dan dihapus satu dosa. Mencium, memeluk, dan yang lebih jauh dari itu bahkan diberikan perumpamaan pahala seperti jihad di medan perang. Nah, nah, nah! Ngiler kan? Tapi...

Kesiapan pernikahan dengan segala dinamikanya tentu juga harus diwacanakan. Supaya apa? agar, ketika suatu saat memasuki gerbang kehidupan baru sebagai istri/suami tidak akan syok! Loh, kok nikah gini sih? Nggak bebas lagi. Pasangan ternyata nggak semanis saat dibayangkan dulu. Ibadah kok malah jadi kendor ya? Bukannya nambah ilmu agama, malah sering berselisih pada hal-hal sepele. Terus gimana donk?

Belajar donk! Siapin diri lahir-batin, mental-fisik, jasad-ruh, juga skil dan finansial. Caranya? baca banyak buku pernikahan. Fiqh nikah, psikologi suami-istri, mengelola keuangan, belajar masak, beres-beres, dan yang terpenting belajar bersosial di masyarakat(jangan nongkrong di dumay mulu! Hihihi) dengan aktif di masyarakat, kita akan kenal banyak orang, banyak karakter, menghadapi masalah dan bagaimana menyikapinya. Ini skil bersikap yang tidak bisa dipelajari dari buku atau pun postingan di dumay. Butuh praktik langsung! Hehehe ….

Satu contoh simpel:

Pengantin baru satu minggu. Saat itu, mereka baru pindah ke rumah kontrakan. Setting waktu pagi hari.

“Mas, sarapan yuk,” ujar istri sambil membangunkan suaminya. Pikir si istri, suaminya capek sampai-sampai habis subuh tidur lagi.

“Mas, ayuk donk,” bujuk istrinya lagi.
Si suami membuka mata, tapi tidak sedikit pun beranjak dari ranjang.

“Aku masak nasi goreng enakkk banget! Yuk.”

Suami masih diam. Istri lama-lama kesel juga. Sudah repot-repot habis subuh ke dapur bikin masakan, eh malah dicuekin.

“Aku suapin?” tanya istrinya disabar-sabarin.
“Hmm ….”

Dan pada akhirnya, istri ngambek. Sarapan sendiri dan setelahnya tidur-tiduran di ruang lain.

Kira-kira ada apakah gerangan? Yup! Betul! Selidik punya selidik, suami jengkel lantaran semalam istrinya langsung tertidur selepas Isya. Dan suami yang sedang semangat-semangatnya untuk sedekah di atas ranjang kecewa. Apalagi saat istrinya diusili, tanpa sadar si istri menolak bahkan mengibaskan tangan suaminya.

Contoh lagi:

Pengantin baru juga. Setting waktu siang hari sepulang jalan-jalan.

“Mas, laper ndak?” tanya istri sesaat sebelum mereka menaiki kendaraan.

“Nggak, kan tadi udah makan siomay,” jawab suami sambil tersenyum.

Beberapa saat kemudian saat kendaraan melewati warung makan, istri bertanya lagi, “Mas bener nggak laper?”

“Nggak kok Dik, tenang aja.” Santai suaminya menjawab.

Akhirnya, mereka pun sampai di rumah. Si istri langsung masuk kamar dan tidur dengan posisi miring sambil memegang perut. Suaminya belum paham, ia ingin ngusilin istrinya. Eh, yang diusilin malah nangis. Hiks!

“Loh, loh, kamu kenapa?” tanya suaminya bingung.
Diam. Istrinya diam sambil memegang perut.
“Capek?” tanya suami.

Si istri tambah ngambek. Dalam hati bilang: Dasar suami nggak pengertian!

Ternyata kenapa saudara-saudara? Yup! Si istri laper tapi suami nggak peka.

Dari dua contoh kejadian di atas, apa kira-kira kesimpulannya? Intinya, pikiran, psikologis, dan motivasi menikah laki-laki dan perempuan itu berbeda.


Perempuan, dengan segala keunikannya, lebih cenderung menginginkan ketentraman, ketenangan, merasa terlindungi, dan cinta dalam bentuk romantisme, perhatian, dan dibimbing ke arah yang lebih baik.

Laki-laki, dengan fitrahnya, cenderung menginginkan ketentraman dalam bentuk lain. Menyalurkan hasrat biologis yang selama ini terpendam. Coba bayangkan, berapa lama laki-laki memendam hasrat hingga ia mempunyai istri untuk menyalurkan? Di atas dua puluh tahun kurasa. Usia laki-laki menikah rata-rata. Apalagi jika nikahnya udah di atas tiga puluh tahun, tambah lama kan ia sabar dalam hal itu? nah, jadi nggak heran jika awal-awal menikah laki-laki akan meminta istrinya melayani lebih dari tiga kali dalam sehari. Bisa lima, enam, tujuh, bahkan sepuluh. dan istri? Jika tidak kuat akan syok! Kok nikah ginian terus sih … capek akuh … hehehe

Belum lagi masalah sifat bawaan yang kadung melekat. Wanita dengan sisi emosional lebih menonjol kadang membuat laki-laki merasa aneh. “Lah, gitu aja dipikirin!” komentar laki-laki saat tahu istrinya nggak enak makan gara-gara mikirin status orang yang dikira nyindir. Sebaliknya, si istri merasa suaminya nggak peduli, nggak mikirin perasaan istrinya. Nah loh … bisa nggak nyaman rumahtangga beberapa waktu ke depan jika dua-duanya nggak ada yang punya inisiatif untuk ngalah.

So? Kesimpulanya? Ya gitu deh! menikah itu perkara berat! Mitsaqon ghaliza, perjanjian besar yang hanya tiga disebutkan Allah dalam Al-Qur’an. Maka, menuju pernikahan harus dengan persiapan matang. Jauhkan dari khayalan romantisme yang terlalu tinggi, takutnya ntar kalau nggak pas bisa sakit. siapin mental, siapin fisik, siapin duit, siapin hati untuk lebih lapang. apalagi jika suatu saat suami ingin mendua. Huaaaa … kalimat terakhir mudah-mudahan Cuma HOAX.

Sekian, terimakasih.
Purworejo, 070717, di depan ranjang dengan aroma melati.
Sri Bandiyah

0 Komentar Apa sih Enaknya Nikah?

Posting Komentar

Ilmunikah.com - Maha Templates
Back To Top